| "Intan-intan" dari yang Tersisihkan |
|
|
|
| Oleh Administrator Yasmin | |
| Jumat, 15 Februari 2008 17:25 | |
|
"Entah bagaimana saya kalau sekarang masih di desa," kata Encep Saepudin (19). Bungsu dari sembilan bersaudara yang dibesarkan di sebuah desa di Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu empat tahun lalu hanyalah anak tamatan sekolah dasar penggembala kambing. Oleh :Gesit Ariyanto Sebuah sore akhir pekan lalu, ia tampak tekun mengerjakan pembukuan di toko buku milik Yayasan Yasmin (Yayasan Imdad Mustadh'afin), Pamulang. Pekerjaan menjaga toko sekaligus menangani pembukuan dijalaninya pagi hingga malam. Tiga kali sepekan, ia mengikuti pendidikan kesetaraan di sebuah SMP swasta di Depok, Jawa Barat. Dari seorang penggembala kambing, kini cita-citanya menjadi wirausahawan sukses. Sebuah harapan baru yang tak pernah terlintas. Teman sebayanya di desa tak sedikit yang "terjebak" pada siklus; dari desa menjadi buruh di kota. Entah sampai kapan. Sementara dirinya sekali dalam dua bulan dapat pulang kampung membawa penghasilan bagi keluarga besarnya. Setiap pulang, uang Rp 150.000 ia berikan kepada ibunya. "Saya bangga," kata dia. Manajer toko Barang Bekas Berkualitas (BarBeKu) yang juga membawahi toko buku, Bambang Irianto, mengatakan, Encep bermodal ketekunan sehingga cepat beradaptasi dengan pekerjaannya. Kini, anak didiknya itu diandalkan dalam pembukuan, bahkan menangani keikutsertaan toko buku itu pada setiap pameran. Encep hanya satu dari ratusan anak, remaja, dan dewasa yang pernah "kesasar" di Yayasan Yasmin; LSM dengan beberapa unit usaha untuk menopang berbagai kegiatan sosial, seperti sekolah, beasiswa murid, klinik kesehatan, pelatihan guru, sanggar belajar, pusat terapi autis, hingga santunan karitatif, yang semuanya dijalankan gratis. Ratusan orang dengan berbagai latar belakang, mulai dari anak jalanan, orang miskin, hingga orang dewasa butuh pekerjaan "sebisanya", pernah ditampung di sana. Mereka disebut staf binaan. "Bagi yang masih usia sekolah, kami biayai sekolahnya hingga SMA. Sepulang sekolah, mereka membantu pekerjaan di sini dan tidur di sini juga," kata Manajer Penggalangan Dana Yayasan Yasmin Edi Slamet. "Oase" kehidupan Menilik aktivitas, interaksi, dan perekrutannya, yayasan yang didirikan tahun 1998 itu menjadi semacam "oase" di tengah interaksi hidup kota besar yang serba angkuh dan "kering". Yayasan itu merangkul, mendampingi, dan "menghangatkan" mereka yang datang. Suatu kali, ketika keuangan unit usaha toko buku dan penjualan BarBeKu baru menghasilkan Rp 2 juta, datang seorang ibu dan berkisah anaknya butuh biaya Rp 1,5 juta hari itu juga bila ingin tetap sekolah. "Kami beri juga, tanpa berpikir akan dikembalikan," kata Edi. Naif, barangkali tepat untuk menyebut keputusan dan posisi organisasi mereka di tengah zaman yang serba perhitungan. Namun, keikhlasan menolong, menghargai sesama, dan kejujuran hati itulah yang justru membuat mereka tetap berdiri. "Mereka yang mau belajar berwirausaha tanpa tipu-tipulah yang akan bertahan di sini," kata Bambang, generasi pertama yang dilibatkan beberapa pendiri yayasan itu. Di tangannya, usaha jual beli barang bekas lelangan hotel, apartemen, kantor kedutaan besar, rumah, dan hibah menjadi usaha yang menguntungkan. Suatu masa, seseorang menghibahkan lahan seluas 500 meter persegi kepada yayasan karena diiklankan bertahun-tahun tak juga laku. Ditangani yayasan, tak sampai dua minggu laku sekitar Rp 175 juta. "Kami percaya, setiap usaha yang didasarkan niat baik akan berjalan baik juga. Meski begitu, ada juga beberapa unit bisnis yang gagal," lanjut Bambang. Beberapa unit bisnis yang dijalankan di antaranya toko buku, penjualan barang bekas berkualitas, penerbitan buku, dan biro perjalanan umrah/haji. Dalam unit-unit bisnis itulah sebagian besar staf binaan, yang sulit diatur, suka mencuri, atau "wong ndeso", diperbantukan. Semua menerima upah harian di atas Rp 20.000. Pegawai tetap yayasan menerima gaji tetap, asuransi kesehatan, dan dana pensiun. Staf yang masih berstatus binaan beberapa tahun, seperti Encep, menerima honor hampir Rp 1 juta per bulan, belum termasuk uang sekolah yang ditanggung yayasan. Selain Encep, ada lagi Satria (15), remaja asal Aceh Tengah, yang pernah melarikan diri dari pesantren dan tinggal di sebuah gubuk. Sekitar 14 bulan terakhir ia ikut "bantu-bantu" di yayasan. "Makan, tidur, dan uang sekolah ditanggung yayasan. Saya bantu-bantu saja sepulang sekolah," kata murid kelas II sebuah SMP swasta itu. Meskipun begitu, ia pernah melarikan diri tiga hari, sebelum akhirnya dijemput salah satu pendiri Yayasan Yasmin dari kantor polisi karena dilaporkan mencuri. Satria mengaku bandel dan spontan. Namun, ia berharap bertahan dan terus bersekolah. "Saya ingin membahagiakan orangtua dan orang yang membantu saya," kata dia. Sabar dan sabar Datang dan pergi lazim di yayasan itu. Sekalipun menurut ukuran umum "nasib" staf binaan yang diterima apa adanya itu terbilang enak, tak sedikit yang memilih kembali pada dunia lamanya, misalnya menggelandang. Ada pula staf binaan yang rajin mencuri. Ada pula yang terlalu percaya diri lalu memilih mandiri. Ada yang tergoda tawaran bekerja di tempat lain lalu gagal. "Kami sadar dari awal risiko seperti itu. Kesabaran kami kadang berbuah perubahan karakter, tetapi ada juga yang tak berubah dan pergi. Kami senang kalau ada yang mandiri lalu berhasil, karena berarti kewirausahaan sosial yang kami kembangkan berhasil," kata Edi, yang juga akuntan. Kecenderungan di yayasan itu, staf yang direkrut secara profesional justru sering tak tahan dengan irama dan model kerja. Berbagai konsekuensi organisasi memang memengaruhi ritme kerja yang berbeda dengan bisnis murni yang mengejar untung. Sebaliknya, staf binaan yang sekolahnya tak beres justru tahan bekerja dalam ketidakpastian. Dodi (22) misalnya, salah satu staf yang sebelumnya joki three in one, kini menjadi penyurvei bisnis barang bekas yang andal. Buat Bambang, Edi, dan pengelola yayasan, bekerja dengan orang-orang berlatar belakang pendidikan dan karakter tak terduga adalah seni hidup. Tak jarang mereka temukan "intan-intan" dari kalangan tersisihkan. Dan, "intan-intan" itulah yang kini turut menjadi ujung tombak organisasi untuk menggerakkan roda kegiatan sosial demi masa depan sesama yang lebih baik.
|
|
| LAST_UPDATED2 |




