| Belanja Sekaligus Beramal |
|
|
|
| Oleh Administrator Yasmin | |||
| Kamis, 24 April 2008 22:16 | |||
|
Barbeku menjual barang-barang hibah untuk program-program sosial yaitu dibidang pendidikan dan kesehatan. Semuanya untuk kaum duafa. Emilia sore itu terlihat sibuk dan asyik memilih lemari sambil sesekali menanyakan berapa harga barang yang dipegangnya tersebut dan menawar barang-barang tersebut. Jangan 250 ribu dong, 100 ribu ya mas? Aku mau beli dua nih, ya mas ya? Boleh tidak?,” rayu Emil kepada penjaga toko. “Maaf ibu tidak bisa. Ya sudah, pasnya 200 ribu. Kalau ibu membeli ini, ibu juga turut membantu kaum duafa. Insya Allah pahala ibu akan ditambah,” ucap Setiyo Iswoyo, manager program Yayasan Yasmin yang membawahi toko Barbeku. Barbeku adalah toko yang menjual barang bekas berkualitas, seperti furniture dan lainnya, yang hasil keuntungan penjualannya disalurkan untuk kaum duafa. Yayasan Yasmi lah yang mempelopori adanya toko Barbeku ini pada tahun 1988, saat krismon. Menurut Haidar Bagir, salah seorang pendiri, Barbeku didirikan karena Yayasan Yasmin memiliki mimpi, jika suatu saat program-program yang dilakukan bisa dibiayai sendiri. Salah satunya program untuk memberikan bantuan pada kaum tak mampu. Siang itu, Nina, turun dari mobil Karimun hitam nya dan bergegas masuk ke Barbeku. “Mas saya punya meja dan kursi makan di rumah, tapi saya ingin memiliki meja kursi yang itu, bisa tukar tambah tidak?, “ tanya Nina sambil menunjuk barang yang ia sukai. Barbeku tidak hanya menjual barang-barang dari hibah, namun juga menerima titip barang dari para ibu dan wanita single menengah atas yang sering berganti-berganti furniture untuk dijual kembali. “Kami juga menerima barang titipan untuk dijual kembali, bahkan tukar tambah juga bisa,” kata Iswoyo. Toko Barbeku berdiri sebagai unit usaha yayasan Yasmin yang bergerak pada program-program sosial. Dimana keuntungan dari hasil penjualan akan dialokasikan kepada kegiatan sosial yayasan Yasmin. “Kami ingin membuat bisnis dengan mendirikan unit usaha, maka didirikanlah toko barang bekas untuk mendayagunakan barang bekas,” ujar Haidar Bagir. Para pendiri yayasan yaitu Haidar Bagir, Rahmad Riyadi, Zaim Saidi dan Parnihadi melihat pada saat itu banyak anak putus sekolah, ketidak mampuan orang untuk berobat dan PHK. “Karena itu yayasan ini berdiri karena dua aspek yaitu melayani dalam dunia pendidikan dan kesehatan. Di dunia pendidikan kami mendirikan sekolah TK, SD dan SMP Gratis serta pelatihan guru, sedangkan di dunia kesehatan kami mendirikan Klinik Gratis bagi kaum Duafa,” sambung Iswoyo lagi.Menurut Iswoyo, untuk menunjang dana dari program-program sosial tersebut, maka usaha Barbeku ini berdiri dan beroperasional hingga saat ini. Unit usaha yang dijalankan Barbeku adalah hibah barang bekas untuk kemudian dijual kembali. Dan dari situlah penggalangan sumber dana untuk program sosial berasal dari hibah barang bekas. “Awalnya penggalangan hibah barang bekas dilakukan dari para relasi dan sahabat. Barang bekas apa saja diterima seperti barang elektronik, buku, baju, tas, sepatu bahkan furniture bekaspun diterima,” kata Haidar. Namun hingga saat ini hibah barang bekas dari masyarakat bukan hanya dari para relasi dan sahabat, namun dari masyarakat umum maupun instansi dan perusahaan, Barang-barang hibah yang diterima, Kemudian dijual kembali dengan harga yang sangat murah. Hasil dari penjualan disalurkan untuk program-program sosial yang sudah disusun yayasan Yasmin. Respon masyarakat terhadap barang-barang hibah juga sangat luar biasa. Pembeli barang-barang berasal dari segala kalangan. Bahkan kalangan elite pun rela mengantri untuk memilih dan mendapatkan barang berkualitas dengan harga murah. “Tanggapan masyarakat sungguh diluar dugaan, ternyata responnya sangat tinggi. Apalagi barang-barang disini bukan hanya barang hibah dari rumah tangga namun juga didapat dari hotel, apartemen atau perkantoran dan tentunya barangnya memiliki kualitas yang sangat bagus,” kata Iswoyo. Awalnya jenis barang yang ada disini semuanya adalah barang hibah dari masyarakat dalam bentuk apapun seperti buku, komputer, TV, majalah, koran bekas, dan lainnya. Namun seiring berjalan toko Barbeku hanya fokus pada barang-barang hibah berupa furniture. “Kami sangat menghargai apapun yang diberikan orang kepada kami. Kami akan menerima apapun bentuknya, bahkan pernah kami membawa barang hibah satu mobil berupa serpihan kayu dan koran bekas yang tidak bisa dipergunakan,” kata Iswoyo. “Namun kami menghargai niat baik orang dan kami menerimanya. Namun untuk saat ini kami ingin fokus untuk menerima barang hibah dan barang titip jual dalam bentuk furniture yang siap pakai,” kata Iswoyo. Kebanyakan penghibah, pembeli maupun penitip barang-barang yang terdapat adalah para ibu kelas menengah atas yang sering sekali berganti furnitur dan barang elektronik setiap periode tertentu. Barbeku juga semakin melebarkan sayapnya untuk melirik barang-barang bekas hotel, perkantoran maupun apartemen yang biasanya berkualitas tinggi dan memiliki kondisi yang sangat bagus. Kemudian kami mengembangkan bisnis ini untuk mengikuti lelang yang biasanya digelar oleh Hotel, perkantoran ataupun apartemen yang biasanya meregenerasikan barang-barangnya yang rata-rata memiliki kualitas yang tinggi,” kata Iswoyo. "Kemudian jika kami memenangkan lelang tersebut, kami akan menjualnya kembali di Barbeku dan tentunya keuntungannya disalurkan bagi program sosial kami,” tambah Iswoyo. Barbeku juga tetap menerima barang-barang furniture maupun elektronik dari rumahan, tetapi penghibah atau penjual tidak diperkenankan untuk mengantarkan barang ke toko Barbeku. "Kami akan mendatangi penghibah ataupun penjual barang. Karena kami menghindari kemungkinan adanya barang-barang curian atau ilegal yang dihibahkan atau dijual,” kata Iswoyo. "Biasanya penghibah atau penjual akan menelpon kami, kemudian tim survey kami akan mendatangi rumah penghibah atau penjual, sekaligus untuk memberikan harga pada barang yang dijual,” kata Iswoyo. Omset Barbeku saat ini telah mencapai Rp 200 juta per bulan. “Kami tidak pernah memiliki kesulitan untuk menjual barang-barang ini, maksimal dua minggu sudah laku. Namun yang menjadi kendala adalah pengadaan barang bekas yang tidak memadai dan sangat sulit,” kata Iswoyo. “Padahal kami selalu berpesan bahwa jika bapak dan Ibu menjual barang-barang bekas yang masih layak, maka mereka juga turut menyumbang pada program-program sosial kami. Mudah-mudahan dengan begitu masyarakat bisa turut membantu,” lanjut Iswoyo. Seluruh program sosial yang dananya disokong dari usaha Barbeku ini adalah SMP Gratis, SD Gratis, Smk Informatika yang bekerjasama dengan PLN dan Yayasan Lazuardi, TK dan sanggar Belajar, pusat terapi autis, training guru dan klinik yang terletak di Cinere. Selain furniture dan barang-barang elektronik, Barbeku juga selalu membuka gerai buku dengan harga murah. (Atus Zahar) http://www.tabloid-wanita-indonesia.com/933/barbeku011107-933.htm
|
|||
| LAST_UPDATED2 |




