May
20
2012
Today
Persembahan Spesial untuk Allah SWT PDF Cetak E-mail
Oleh Administrator Yasmin   
Rabu, 23 Juli 2008 16:08
Pak Situr, lelaki separuh abad ini sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu di bilangan Lampung. Kulitnya hitam legam, kontras dengan rambutnya yang memutih, karena sengatan sinar matahari. Sejak pagi buta setelah shalat subuh, Pak Situr sudah berjalan 4 kilometer menaiki jalan mendaki nan terjal menuju bukit cadas. Bermodalkan palu, nasi putih, ikan asin/ tempe dan sebotol air yang dimasak sang isteri, dia mengarungi pekerjaannya sepanjang hari. Memecah batu demi batu yang sangat keras, menjadi serpihan sebesar telapak tangan. Suara dentingan palu dan batu menjadi irama yang memekakkan telinga. Tengah hari, ketika matahari tepat di atas kepala dan bayang-bayang tubuh terinjak kaki, Pak Situr menengadah ke langit. Batu belum banyak terkumpul, tetapi dia segera beranjak seolah mendengar panggilan yang sangat penting. Adzan memang tidak terdengar di tengah bukit cadas itu. Tetapi waktu tengah hari adalah saat Allah memanggil kekasih-Nya. Begitu Pak Situr menjelaskan.

Subhanallah, untuk mencari air wudhu Pak Situr harus berjalan bolak-balik sekitar 40 menit menuruni celah lembah yang sangat curam dan berbahaya. Gemercik air seperti memanggil tubuhnya yang setengah hari seperti mendidih terpanggang.

“Pak Situr maaf, bukan bermaksud mengajari, tetapi jika sulit mendapatkan air, Bapak diperbolehkan ber-tayamum”, usulku.

“Iya Dek. Tetapi saya malu sama Gusti Allah.  Kalau untuk anak dan istri yang saya cintai, saya berani kerja keras sepanjang hari, bagaimana untuk Allah yang telah memberikan segalanya, saya tak sanggup luangkan waktu setengah jam untuk membasuh tubuh?”                  

Saya tersentak. Betapa untuk segera ambil air wudhu yang beberapa langkah dari kita atau untuk turun satu lantai dan shalat berjamaah, atau bahkan untuk mendatangi mushola di depan rumah, kita lebih sering alpa?

Pak Situr adalah sosok yang istimewa. Begitu menjaga ibadah seolah tak mau mengabaikan pertemuan dengan Tuhan. Begitu memperhatikan proses ibadah secara sangat baik, mengikuti kesempurnaan wudhu, sholat dengan penuh khusyu dan menjaga waktu sholatnya.

“Untuk anak isteri, saya mencari rejeki yang baik, dan sebisa mungkin melalui cara yang halal saya persembahkan cara ini untuk Allah”.

Tidak hanya itu, kepada sesama, dia selalu memberi kambing kurban terbaik di musholanya setiap tahun. Dia juga menjadi penyumbang tetap dana yatim di kampungnya. Mengajar ngaji untuk anak-anak setiap petang. Dia mengutamakan persembahan untuk Allah lebih special, dari pada untuk kehendak dirinya. Hidupnya selalu berkecukupan dan bahagia, meskipun pekerjaannya hanya tukang batu.

 

Boleh jadi tubuhnya legam dan tidak menarik, tetapi ruhnya mewangi. Dia menjadikan tubuhnya jalan menghamba untuk mensucikan ruhnya. Dalam perjalanan hidup yang sebentar, adalah tapak langkah menuju Allah Swt. Kualitas kita di akhirat adalah buah kehidupan kala di dunia.

 

“Kalau misik kau cucurkan di badanmu, kelak bangkaimu kan tetap berbau busuk. Dua hari setelah itu orang akan menguburnya dua meter di bawah tanah untuk menghindari aroma busuknya yang sangat menyengat. Semprotkan misik itu ke permukaan jiwamu, jangan kau oleskan di daki tubuhmu…” (Jalaludin Rumi).

 

Lima hari yang lalu, kabar duka membahana telepon genggamku. Pak Situr dipanggil menghadap Allah Swt. Innalillahi wa inna ilayhi raji’un. Rumahnya penuh sesak oleh pelayat. Menurut penuturan, belum pernah jenazah di kampungnya diiring ribuan pelayat seperti jenazah Pak Situr. Doa selalu dipanjatkan sepanjang malam oleh yatim-yatim dan santri Sang Guru yang santun.

 

Tahun ini tak ada lagi kambing kurban terbaik di mushola, tak dijumpai senyum dan salam manis guru yang mengajar huruf demi huruf al-Qur’an. Jalan akan merindukan tapak kakinya yang pecah-pecah terantuk batu. Gemercik air sungai menangis, karena badan penghamba itu tidak mengambil wudu lagi darinya. Pecahan batu yang bertumpuk juga tak akan mendengar lagi, bisik tasbih hati pecinta Ilahi di sampingnya.

 

Pak Situr, semoga ruhmu bertemu kecintaanmu, Rasulullah Saw. Manusia mulia yang mencium tangan pecah-pecah sahabatnya yang juga tukang batu, Sa’ad Al-Anshori sambil berucap, “tangan inilah yang tidak akan tersentuh api neraka”. Semoga Allah memeluk ruhmu, yang kau persembahkan spesial untuk-Nya. ***

LAST_UPDATED2